Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Pendakian Gunung Aseupan, Katanya Ramah Pemula Tapi....


 Alhamdulillah, kali ini bisa mendaki lagi. Bahkan lebih banyak lagi rombongannya. Ada 32 orang yang tergabung dalam komunitas Yaa Abati mendaki gunung Aseupan Pandeglang Banten. Rombongan yang terdiri dari bapak dan anak ini berasal dari Rangkasbitung. Memang unik karena tidak hanya orang dewasa tapi juga anak-anak. Paling muda kelas satu sekolah dasar.  Rombongan memilih aseupan yang memiliki ketinggian 1174 mdpl karena dianggap ramah untuk pemula. Apakah faktanya demikian?

Ada empat pos untuk gunung Aseupan. Hingga pos 3 treknya masih nyaman. Namun, setelah itu, treknya semakin menantang. Bukan hanya menanjak tapi juga mengandung bahaya karena kanan kirinya jurang. Rombongan harus hati-hati. 

Sampai ada yang hampir menyerah di tengah perjalanan. Semakin lama energi semakin habis walaupun sudah ditemani camilan. Semakin siang, langkah terasa semakin berat, napas tersengal, dan jalur yang dilalui bukanlah jalur yang mudah. Ada yang memilih berhenti, tak melanjutkan hingga ke puncak. Tapi tidak apa-apa, sebab puncak bukanlah tujuan, tapi keselamatan adalah tujuannya.

Gunung Aseupan yang sering disebut sebagai Atap Banten selain memiliki trek yang terjal, kanan dan kiri jalur dihiasi jurang yang membuat setiap pijakan harus benar-benar diperhitungkan. Tanjakannya pun bukan sekadar tanah yang lunak, melainkan bebatuan keras yang terasa menyiksa telapak kaki di setiap langkah.

Namun di balik rasa lelah itu, ada semangat yang perlahan tumbuh ketika melihat teman-teman yang telah lebih dulu sampai di puncak, muncul dorongan kuat untuk tidak menyerah begitu saja. Semangat itu menular. Tekad pun semakin menguat, apalagi dengan dukungan orang tua yang terus mendampingi dan memberi semangat sepanjang perjalanan. Akhirnya, puncak Aseupan yang menantang itu pun berhasil dicapai bukan hanya sebagai tujuan fisik, tetapi juga sebagai kemenangan atas diri sendiri. Meskipun tidak berbarengan tapi terbagi dalam beberapa rombongan.

Ada 17 bapak-bapak yang membawa anaknya. Meskipun pasti lebih repot dibanding muncak sendirian tapi bapak-bapak sudah paham konsekuensinya. Membawa anak-anak untuk memberikan pengalaman berharga dengan anaknya agar dikenang sepanjang hidupnya. Ada bapak-bapak yang merasa kurang waktu kebersamaan dengan anaknya lantaran urusan pekerjaan. Maka, naik gunung, menjadi penggantinya, jadi kesempatan membayar utang kedekatan itu. 
Pendakian kali ini terasa begitu berbeda. Setiap gunung memang memiliki karakteristiknya masing-masing, tetapi Aseupan menyimpan cerita yang khas. Jalurnya menantang, suasananya memberi kesan tersendiri, dan pengalaman yang ditinggalkan terasa lebih dalam dari sekadar perjalanan biasa.

Rombongan membawa konsumsi yang cukup sebagai bekal di perjalanan. Kadang jajan di beberapa pos yang buka. Membeli di warung di jalur pendakian dianggap sebagai berbagi ataupun sedekah bagi yang berjualan. Diusahakan membantu agar jualannya agar laris atau ada yang beli.

Komunitas Yaa Abati ini didasarkan kesadaran pentingnya membangun kedekatan dengan anak. Agar sosok ayah semakin sadar bahwa pendidikan anak itu utamanya dilakukan oleh para ayah. Komunitas ini telah beberapa kali mendaki gunung di antaranya gunung Pulosari, Gunung Karang, dan Gunung Parakasak. 

Di awal pendakian, rombongan diingatkan pengelola agar tidak ada sampah yang ditinggalkan di gunung. Bahwa kesadaran menjaga alam bukan hanya soal aturan, tetapi tentang tanggung jawab pribadi. Gunung bukan sekadar tempat untuk ditaklukkan, melainkan ruang yang harus dijaga bersama.

Bisa saja curang meninggalkan sampah sembarangan di atas sana tapi tidak bisa membohongi diri sendiri. Di sini pula kesempatan orang tua mengajarkan anaknya untuk mencintai lingkungan. Pendakian kali ini. Sungguh jadi pengalaman bernilai. Mulai mendaki  pukul delapan sebanyak 15.000 langkah memberikan banyak hikmah. 

Pendakian ini bukan hanya tentang mencapai puncak, tetapi tentang perjalanan, kebersamaan, perjuangan, dan pelajaran hidup yang tak ternilai. 

"Bapak2 mendaki itu sudah biasa, tapi bapak2 mendaki sambil bawa anak itu luar biasa!," kata Eyang Sigit. Seorang peserta berusia 50-an tahun.

Alhamdulillah ini, hikmah mendaki bareng bareng, semua peserta belajar mengelola emosi, antara ingin marah atau nangis, tapi harus menampakkan wajah ceria. Dalam rombongan pula harus berempati pada peserta lain yang berjalan lambat atau kelelahan. Komunitas ini juga kadang menamai sebagai Pejabat atau pendaki jalan lambat. Memang jalan mendakinya lambat. Mendaki tidak juga harus buru-buru. Alangkah baiknya menikmati pemandangan di sepanjang perjalanan jalur pendakian. Menghirup udara segar, menyapa rumput dan perdu di kanan kiri. Juga mengobrol bersama bapak-bapak untuk berbagi ilmu parenting. Tidak lupa menjalin kedekatan bersama anaknya masing-masing. Apalagi sekarang ini Indonesia dibayangi sebuah fenomena yang sering dinamakan fatherless atau minimnya kehadiran ayah dalam pengasuhan di dalam rumah. Saat mendaki itulah diupayakan menguatkan ikatan antara ayah dan anak. Ada juga anak yang tidak ditemani oleh orang tuanya. Tapi semua bapak-bapak menganggapnya sebagai anak sendiri, perlu menemani dan mendampinginya, merasa sebagai wakil dari orang tuanya. Begitulah filosofi dan tekad yang ditanamkan dalam komunitas Yaa Abati ini

Post a Comment for "Pendakian Gunung Aseupan, Katanya Ramah Pemula Tapi...."