Kasihan Bapak2 atau Emak2?
Kasihan ya ditinggal istri ada kegiatan seharian. Sekarang harus mengurus anak sampai malam.
Sekilas memang terdengar seperti sesuatu yang berat.Apalagi anak saya yang masih kecil masih minum ASI. Bayangkan ketika tiba-tiba ia lapar, rewel, atau mencari ibunya. Saya yang harus menenangkan. Saya yang harus menggendong. Saya yang harus mencari cara agar ia tetap nyaman meskipun ibunya tidak ada di rumah.
Mungkin di situlah letak “kasihannya”.
Tapi setelah menjalaninya, saya justru bertanya kepada diri sendiri: benarkah saya perlu dikasihani?
Saya hanya menjalani semuanya sehari.
Sehari saja.
Dan ternyata, setelah menjalaninya, saya malah banyak merenung.
Berapa kali sebenarnya istri saya perlu dikasihani?
kalau dipikir-pikir lagi, justru saya yang selama ini lebih sering meninggalkan rumah. Ada kegiatan di sekolah, ada urusan organisasi, ada pekerjaan yang mengharuskan keluar kota, ada kegiatan yang berlangsung dari pagi hingga malam. Tidak jarang saya harus pergi sehari penuh. Bahkan ada kegiatan yang membuat saya harus menginap beberapa hari.
Ketika saya pergi, kehidupan di rumah tentu tidak berhenti.
Anak-anak tetap harus makan.
Mereka tetap harus mandi.
Tetap harus berangkat sekolah.
Tetap harus belajar.
Tetap harus ditemani ketika sedang rewel atau membutuhkan perhatian.
Pekerjaan rumah juga tidak kemudian ikut berhenti hanya karena saya tidak ada.
Di situlah saya mulai berpikir, bukankah sebenarnya istri saya yang lebih layak dikasihani?
Ketika saya pergi, dialah yang tetap berada di rumah dan memastikan semuanya berjalan.
Mengantar dan menjemput anak.
Mengasuh anak.
Menyiapkan makanan.
Memasak.
Mencuci pakaian.
Menjemur pakaian.
Melipatnya.
Menyeterikanya.
Membereskan rumah.
Mengepel lantai.
Membersihkan teras.
Merapikan halaman.
Dan masih banyak pekerjaan kecil lainnya yang sering kali tidak terlihat, tetapi kalau dikumpulkan ternyata begitu banyak.
Belum lagi pekerjaan-pekerjaan yang sifatnya mendadak.
Gas habis.
Galon harus diangkat.
Air perlu dihidupkan.
Ada sesuatu yang rusak dan harus segera dibereskan.
Anak tiba-tiba sakit.
Anak menangis.
Anak bertengkar.
Anak membutuhkan sesuatu.
Hal-hal sederhana yang selama ini mungkin saya kerjakan dengan mudah karena terbiasa, ternyata tetap harus ada yang mengerjakannya ketika saya tidak berada di rumah.
Dan orang itu adalah istri saya.
Memang, mungkin anak sulung dan anak kedua bisa membantu.
Tetapi kita juga tahu kemampuan mereka masih terbatas. Usianya baru dua belas dan sembilan tahun. Mereka bisa membantu mengambil sesuatu, merapikan barang, atau melakukan pekerjaan sederhana lainnya. Namun tentu tidak bisa sepenuhnya menggantikan peran orang dewasa.
Akhirnya, sebagian besar pekerjaan tetap kembali kepada ibunya.
Saya yang hanya sehari mengurus anak di rumah saja sudah merasa cukup lelah.
Lalu saya membayangkan bagaimana rasanya menjadi istri yang harus menjalani rutinitas itu hampir setiap hari.
Saya yang hanya sehari mungkin sudah merasa kerepotan ketika anak rewel.
Istri saya mungkin sudah mengalaminya berkali-kali.
Saya yang hanya sehari harus memikirkan menu makanan anak.
Istri saya memikirkannya hampir setiap hari.
Saya yang hanya sehari harus membereskan rumah.
Istri saya melakukannya berulang-ulang, bahkan ketika rumah kembali berantakan beberapa jam kemudian.
Di situlah saya sadar bahwa banyak pekerjaan di rumah yang selama ini saya anggap biasa saja ternyata membutuhkan tenaga, waktu, kesabaran, dan perhatian yang tidak sedikit.
Masalahnya, pekerjaan rumah memang sering tidak terlihat.
Tidak ada absensi.
Tidak ada jam pulang.
Tidak ada slip gaji.
Tidak ada rapat evaluasi.
Tidak ada penghargaan setiap kali pekerjaan selesai.
Bahkan ketika semuanya sudah beres, beberapa jam kemudian bisa berantakan lagi.
Anak-anak makan, lalu meja kembali kotor.
Pakaian sudah dicuci, beberapa hari kemudian keranjang pakaian kembali penuh.
Rumah sudah dipel, sebentar kemudian ada remah makanan berserakan lagi.
Mainan sudah dibereskan, beberapa menit kemudian kembali memenuhi ruang keluarga.
Begitu terus.
Berulang.
Dan berulang.
Mungkin karena itulah pekerjaan rumah sering dianggap sebagai sesuatu yang “memang sudah seharusnya dilakukan”.
Padahal, di balik rutinitas yang terlihat sederhana itu, ada seseorang yang mengeluarkan tenaga dan pikirannya setiap hari.
Karena itu, ketika ada orang berkata, “Kasihan ya, ditinggal istri seharian. Harus mengurus anak sampai malam,” saya sekarang justru tersenyum.
Bukan karena saya tidak merasa lelah.
Lelah, tentu saja.
Tetapi pengalaman sehari itu justru membuat saya semakin menghargai apa yang selama ini dilakukan istri saya.
Kalau saya yang hanya ditinggal sehari saja sudah dianggap kasihan, lalu bagaimana dengan istri yang mungkin harus menghadapi keadaan serupa ketika saya pergi berhari-hari?
Kalau sehari saja saya sudah merasa kerepotan, bagaimana dengan seseorang yang menjalani rutinitas itu setiap hari?
Dan ternyata, saya tidak sendirian.
Di luar sana ada banyak bapak yang juga memiliki pengalaman serupa.
Ada yang harus pergi bekerja berhari-hari.
Ada yang berminggu-minggu tidak pulang.
Bahkan ada yang berbulan-bulan jauh dari rumah karena tuntutan pekerjaan.
Pelaut, misalnya.
Mereka harus meninggalkan istri dan anak-anak dalam waktu yang tidak sebentar. Pergi ketika anak masih kecil dan baru kembali ketika anak sudah mengalami banyak perubahan.
Ada juga orang-orang yang bekerja di kapal, di proyek, di pertambangan, atau pekerjaan lain yang mengharuskan mereka jauh dari keluarga.
Teknisi kereta api pun ada yang harus meninggalkan rumah selama berhari-hari, bahkan satu atau dua minggu, demi memastikan pekerjaan mereka berjalan.
Mereka pergi mencari nafkah.
Pergi menjalankan tanggung jawab.
Pergi bekerja agar keluarga di rumah tetap bisa hidup dengan baik.
Tetapi pada saat yang sama, ada satu hal yang sering luput kita pikirkan.
Ketika seorang ayah pergi, ada seorang ibu yang tetap tinggal.
Ayah mungkin sedang berjuang di luar rumah.
Tetapi ibu juga sedang berjuang di dalam rumah.
Keduanya sama-sama berjuang, hanya tempat perjuangannya berbeda.
Yang satu mungkin menghadapi jalanan, pekerjaan, target, rapat, proyek, atau perjalanan panjang.
Yang satu lagi menghadapi anak yang menangis, rumah yang berantakan, cucian yang menumpuk, makanan yang harus disiapkan, dan segala urusan rumah tangga yang seolah tidak pernah ada habisnya.
Karena itu, mungkin kita perlu berhenti menggunakan kata “kasihan” untuk membandingkan siapa yang lebih berat.
Sebab dalam keluarga, seharusnya bukan tentang siapa yang paling lelah.
Bukan tentang siapa yang paling banyak berkorban.
Bukan pula tentang siapa yang paling layak mendapatkan pujian.
Keluarga adalah tentang dua orang yang saling menguatkan.
Ketika suami sedang sibuk di luar, istri menopang dari rumah.
Ketika istri sedang memiliki kegiatan, suami mengambil alih sebagian pekerjaan rumah.
Bukan untuk saling menghitung.
Bukan untuk saling menagih.
Tetapi karena begitulah seharusnya pasangan bekerja sama.
Pengalaman sehari itu akhirnya memberi saya pelajaran sederhana:
Kadang kita baru benar-benar menghargai pekerjaan seseorang setelah kita mencoba mengerjakannya sendiri.
Saya yang biasanya pergi bekerja, akhirnya merasakan bagaimana rasanya seharian berada di rumah dan mengurus anak.
Ternyata tidak mudah.
Dan justru karena itulah saya semakin menghargai istri.
Mungkin selama ini saya terlalu sering menganggap pekerjaan rumah sebagai sesuatu yang biasa.
Padahal, ada tenaga yang dikeluarkan.
Ada waktu yang dikorbankan.
Ada kesabaran yang harus dijaga.
Ada emosi yang harus ditahan.
Dan ada cinta yang membuat semua itu tetap dilakukan, meskipun tidak selalu mendapatkan ucapan terima kasih.
Jadi, kalau hari itu ada yang mengatakan,
“Kasihan ya, ditinggal istri seharian.”
Saya ingin menjawab:
“Tidak apa-apa. Justru saya sedang belajar memahami pekerjaan istri saya.”
Sebab mungkin, satu hari yang saya jalani di rumah itu adalah kesempatan kecil bagi saya untuk memahami perjuangan yang selama ini dilakukan istri setiap hari.
Dan akhirnya saya sampai pada satu kesimpulan:
Bukan siapa yang harus dikasihani. Yang perlu dilakukan adalah saling menghargai.
Suami menghargai perjuangan istri.
Istri menghargai perjuangan suami.
Ayah memahami beratnya pekerjaan ibu.
Ibu memahami beratnya perjuangan ayah.
Sebab pada akhirnya, rumah tangga bukan perlombaan untuk menentukan siapa yang paling banyak berkorban.
Rumah tangga adalah perjalanan dua orang yang memilih untuk saling menemani, saling membantu, dan saling menguatkan.
Dan mungkin, sesekali kita memang perlu “ditinggal” oleh pasangan untuk menyadari betapa banyak hal yang selama ini diam-diam telah ia kerjakan untuk keluarga.
Saya hanya sehari.
Istri saya mungkin berkali-kali.
Jadi, kalau hari ini saya harus mengurus anak sampai malam karena istri sedang berkegiatan, saya tidak ingin lagi merasa sebagai orang yang paling kasihan.
Justru saya ingin mengatakan kepada istri:
“Terima kasih sudah selama ini melakukan semua ini, bahkan ketika saya tidak melihatnya.”
Karena ternyata, pekerjaan yang paling berat sering kali bukan pekerjaan yang paling banyak dibicarakan.
Ada pekerjaan yang dilakukan dalam diam.
Di rumah.
Setiap hari.
Dan salah satunya adalah menjadi seorang ibu.

Post a Comment for "Kasihan Bapak2 atau Emak2?"
Kata Pengunjung: