Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Dari Memaksa Menjadi Mendengar: Membujuk Anak Sekolah

 

Si sulung pagi ini bilang ingin tidak sekolah. Katanya kepalanya pusing. Biasanya, dalam situasi seperti ini saya punya "jurus ampuh". Saya akan berkata, "Ayah dulu sakit kayak apa pun tetap berangkat sekolah. Kamu baru sakit sedikit saja masa sudah tidak mau sekolah?" Kalimat yang mungkin efektif membuat anak berangkat, tetapi belum tentu membuatnya merasa didengar.

Pagi ini saya memilih cara yang berbeda. Saya tidak langsung membandingkan, tidak buru-buru memberi nasihat, dan tidak memaksanya untuk kuat. Saya mendekatinya dengan nada lembut, lalu bertanya, "Bagian mana yang terasa pusing? Sejak kapan? Menurutmu, apa yang membuat badanmu tidak enak?"

Saya ingin ia tahu bahwa sebelum mencari solusi, perasaannya lebih dulu diterima. Sebab terkadang anak tidak hanya membutuhkan jawaban, tetapi juga seseorang yang bersedia mendengarkan. Bisa jadi kepalanya memang benar-benar sakit. Bisa jadi tubuhnya lelah. Atau mungkin ada sesuatu yang sedang mengganggu pikirannya di sekolah.

Menjadi orang tua ternyata bukan hanya soal mengajarkan anak untuk tangguh, tetapi juga belajar memahami apa yang sedang mereka rasakan. Tidak semua keadaan harus diselesaikan dengan kalimat, "Dulu Ayah lebih susah." Kadang yang mereka butuhkan hanyalah pertanyaan sederhana yang disampaikan dengan penuh kasih: "Ada apa, Nak? Ceritakan ke Ayah."

Mungkin, dari situlah anak merasa bahwa rumah adalah tempat paling aman untuk didengar. Begitulah seharusnya yang dilakukan orang tua.

Masalahnya orang tua sering buru-buru. Tidak sabaran ingin segera melihat reaksi anaknya. Maka, ancaman, yang sering terjadi.

"Kalau nggak sekolah nanti kamu ketinggalan sama yang lainnya."

Perkara semisal ini sering dilakukan segera oleh orang tua. 

Post a Comment for "Dari Memaksa Menjadi Mendengar: Membujuk Anak Sekolah"